Friday, December 21, 2012

DAMPAK PERGAULAN BEBAS BAGI REMAJA



BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Bencana yang terus menimpa bangsa ini tentunya dapat diperbaiki dengan proses waktu yang tertentu, namun bencana akibat rusaknya moral, bagaimana memperbaikinya? Dalam pergaulan bebas remaja sekarang kita lihat sangat menyedihkan,lihat saja dilingkungan sekitar kita kebanyakan yang menjadi korban pergaulan bebas adalah remaja belia. Kebanyakan mereka yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dalam pergaulan bebas ini mereka akan ikut-ikutan dengan kawan mereka atau karena ajakan kawan mereka. Disinilah mereka memulai yang namanya metode coba-coba hinga akhirnya kecanduan. Dari yang minum minuman keras, memakai narkoba hingga akhirnya terjadilah sex bebas. Kita lihat saja kalau sudah malam minggu atau malam libur banyak remaj-remaja yang begadang tanpa keperluan yang jelas. Mungkin tanpa kita sadari pemerintah juga lalai dalam menangani pergaulan bebas ini. Lihat saja sekarang di kota Medan saja sudah ada berapa banyak diskotik yang tidak terlalu dipantau oleh dinas pariwisata. Dikostik juga dapat sebagai pemicu kerusakan moral para remaja saat ini, sekarang saja kita lihat jika masuk diskotik sudah tidak ada cek KTP. Mungkin saja yang masuk diskotik belum cukup umur. Tapi, karena kelalaian itulah banyak yang belum cukup umur masuk diskotik. Mungkin didalam diskotik 75% pengunjung minum alkohol, 20% memakai narkoba, dan mungkin hanya 5% saja yang tidak mengkonsumsi apa-apa. Setelah mabuk tanpa sadar maka disinilah yang sering terjadi seks bebas. Dengan istilah “Sex After Dugem”. Setelah beberapa kali melakukan seks kadang tanpa si wanita sadari dia telah hamil. Disinilah yang terjadi perikhan dini bila si pria mau menikahi si wanita. Tetapi bagainama jika si pria tidak mau atau tidak bertanggung jawab? Maka terjadilah yang namanya aborsi karena si wanita malu dan belum siap menjadi seorang ibu. Tanpa dia pikirkan apa bahaya dari aborsi itu sendiri. Aborsi sendiri adalah penguguran janin atau membuang janin sengaja sebelum waktunya, sebelum dapat lahir secara alamiah. Padahal dampak atau resiko aborsi sangat berbahaya. Dampak pada mental wanita tersebut mungkin wanita tesebut akan mengalami gangguan jiwa atau tertekan batin karena penyesalan yang tidak ada hentinya. Dampak kesehatan atau keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi mungkin akan mengalami kematian mendadak karena pendarahan hebat atau karena pembiusan yang gagal, dan dampak dibelakangan hari juga tidak sedikit mungkin saja si wanita tersebut mengalami luka dalam yang lama kelamaan semakin parah dan berujung kematian juga. Oleh karena itu pemerintah harus mampu mengambil tindakan dan menyaring pengaruh yang berhak dan berdampak negatif bagi para remaja. Begitu pula peran remaja harus mampu mengendalikan diri dan menghindari hubungan seks pra nikah. Upaya-upaya pencegahan pergaulan bebas adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama, moral dan etika, diantaranya :
1. Pendidikan agama, moral, dan etika keluarga.
2. Kerja sama guru dan orangtua, tokoh masyarakat, pendidikan yang diberikan hendaknya tidak hanya kemampuan intelektual, tetapi juga mengembangkan kemauan emosi anak agar dapat mengembangkan rasapercaya diri. Oleh karena itu, kami memilih judul “DAMPAK PERGAULAN BEBAS TERHADAP REMAJA yang sangat berkaitan erat dengan masalah d iatas.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas dan untuk menghindari pemhasan yang lari dari jalur fokus kajian yang telah ditetapkan sebelumnya, serta mempermudah penginformasian terhadap masalah yang dibahas . Maka penulis hanya akan membahas uraian masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana dampak perggaulan bebas terhadap remaja?
2. Bagaimana cara menanggulangi pergaulan bebas?
3. Bagaimana seharusnya pergaulan dalam kehidupan remaja?
4. Bagaimana pentingnya sex education dalam pergaulan remaja?
1.3 Batasan Masalah
Mengingat cakupan permasalahan remaja cukup luas, maka penulis perlu membatasi masalah-masalah pada karya tulis ini ke dalam beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1. Pergaulan bebas
2. Dampak Pergaulan Bebas
3. Penaggulangan
1.4 Tujuan dan Manfaat
1.4.1 Tujuan Adapun tujuan dari pembahasan Dampak Pergaulan Bebas Terhada remaja adalah:
1. Untuk mengetahui “mengapa remaja menjadi korban dari pergaulan bebas”?
2. Utuk mengetahui dampak dari pergaulan bebas.
3. Untuk mengetahui cara menaggulangi pergaulan bebas.
4. Untuk Mengetahui cara menghindari dari pergaulan bebas.
1.4.2 Manfaat
1. Sebagai bahan informasi bagi pembaca untuk menghindari pergaulan bebas.
2. Sebagai bahan informasi bagi penulis untuk menambah wawasan tentang pergaulan bebas.
3. Sebagai bahan informasi tata cara bergaul yang baik di kalangan remaja. 1.5 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan Tugas Kelompok ini terdiri dari 4 (empat) bab dan beberapa sub bab didalamnya yaitu:
BAB 1: Pendahuluan
Pada bab ini penulis menguraikan mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Studi serta Sistematika Penulisan.
BAB 2: Landasan Teori
Pada bab ini penulis menguraikan kerangka konseptual dengan mengunakan beberapa teori dan pengertian yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan topik dan fokus kajian.
BAB 3: Pembahasan
Pada bab ini penulis mengkaji lebih dalam tentang permasalahan yang menjadi topik dan dijelaskan dampak dari permasalahan, cara penanggulangan dari masalah.
BAB 4: Kesimpulan Dan Saran
Pada bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran dari penulis untuk perbaikan karya tulis yang dibuat.
BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KONSEPTUAL
2.1 Landasan Teori
Landasan teori adalah merupakan konsep panduan yang digunakan sebagai topik untuk menyelesaikan suatu karya ilmiah. Pada bagian ini penulis menegukakan teori yang berkaitan dengan masalah yang dibahas yang merupakan dasar penulis dalam membahas masalah yang Dampak Pergaulan Bebas Terhadap Remaja.
2.1.1 Pengertian Pergaulan Bebas Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship). Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskriminasi, sebab hal itu melanggar HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermasyarakat. Jadi, kalau secara medis kalau pergaulan bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini. Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya timur yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.
2.1.2 Pengertian Remaja Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun.Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
2.1.3 Dampak Pergaulan Bebas Dampak dari pergaulan bebas akan menimbulkan perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; negatif minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Melakukan hubungan seks secara bebas merupakan akibat pertama dari pergaulan bebas yang merupakan lingkaran setan yang tidak ada putusnya dengan berbagai akibat di berbagai bidang antara lain di bidang sosial, agama dan kesehatan. Yayah Khisbiyah (1994), misalnya, mengutip pelbagai hasil penelitian yg menunjukkan intensitas angka kehamilan remaja di luar nikah. Lembaga konseling remaja, Sahabat Remaja, menemukan dari pelbagai kasus yg mereka tangani pada tahun 1990 dijumpai ada 80 remaja usia 14-24 tahun yg hamil sebelum nikah. Penelitian di Manado yg dilaporkan oleh Warouw mengambil 663 sampel secara acak dari 3.106 orang meminta induksi haid ditemukan sebanyak 472 responden yg belum menikah (71,3%) mengalami kehamilan yg tidak dikehendaki (unwanted pregnancy). Dari jumlah tersebut, 291 responden (28,8%) berusia 14-19 tahun, 345 responden (52%) berusia 20-24 tahun. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen. Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius.
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Defenisi Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja
Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship). Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskriminasi, sebab hal itu melanggar HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermsayarakat. Jadi, kalau secara medis kalau pergaulan bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini. Namun, dalam masyarakat pergaulan bebas memiliki arti yang berbeda. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan bebas artinya terlepas dari ikatan. Jadi pergaulan bebas artinya proses bergaul dengan orang lain tetapi terlepas dari norma yang mengatur tentang pergaulan. Pergaulan bebas tidak mengenal batas-batas pergaulan. Para remaja dengan bebas saling bercengkrama, bercampur baur antara lawan jenis, akibatnya mudah di telusuri berkembanglah budaya pacaran.
3.2 Faktor – Faktor Pergaulan Bebas Seorang anak dapat terjerumus ke dalam pergaulan bebas disebabkan oleh :
1. Arus globalisasi Seiring dengan semakin cepatnya arus globalisasi, banyak budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya Timur (Indonesia) masuk ke Indonesia. Budaya Timur yang awalnya pacaran pada usia remaja dianggap tabu oleh masyarakat, tetapi semakin akibat kuatnya pengaruh arus globalisasi tersebut menyebabkan pacaran sebagai hal biasa.
2. Pengaruh teman atau kelompok sepermainan Sudah tidak dapat kita ungkiri bahwa sekarang ini teman ialah tempat menampung segala keluh kesah kita. Namun, apabila kita kita salah mencari teman, mereka akan menghibur kita, mereka akan mengajak kita mencari solusi semua masalah kita dengan mengajak kita clubbing, merokok, apalagi mencari menggunakan ganja.
3. Pengaruh media massa Sekarang, untuk mendapatkan suatu video, gambar dan cerita-cerita tentang seks dan pornografi lainnya sangat mudah, tinggal cari di internet dengan mengunjungi situs-situs yang meyediakan layanan dewasa tersebut selain itu juga film-film dewasa tersebut juga sudah dijual oleh para pedagang kaset dan video. Begitu mudahnya akses untuk mendapatkan hal-hal yang berbau pornografi sekarang ini menyebabkan semakin meningkatnya angka perilaku seks bebas di kalangan remaja. 4. Iman yang lemah Pemahaman religi/ agama yang kurang, sehingga iman sangat mudah untuk digoyahkan untuk berbuat yang tidak baik dan tidak lagi dapat memahami akibat dari pergaulan bebas, baik berakibat didunia maupun diakhirat pada akhirnya.
5. Pandangan orangtua Anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Orang tua juga melakukan kesalahan, dengan tidak memberikan pendidikan yang memadai di rumah, dan membiarkan anak-anak mereka. Sehingga dari ketidak fahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.
3.3 Dampak Pergaulan Bebas
Sebagai remaja yang baik, tentu kita tidak ingin hal itu terjadi, bukan? Oleh karena itu, berilah jarak antara kita dengan pergaulan bebas yang merajalela. Karena, dampak dari pergaulan bebas tersebut hampir kebanyakan merupakan dampak negatif, salah satunya kita bisa terjangkit virus HIV/AIDS (Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome). Dan masih banyak lagi dampak-dampak negatif lainnya.
3.3.1 Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja ialah perilaku menyimpang dari atau melanggar hukum. Kenakalan remaja dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Kenakalan remaja yang menimbulkan korban fisik pada orang lain : perkelahian, tawuran pelajar, perkosaan, perampokan, dan lain-lain.
2. Kenakalan yang menimbulkan koraban materi : perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.
4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar yang membolos, mengingkari status orang tua dengan minggat dari rumah atau membantah mereka.
3.3.2 Penyalahgunaan Narkoba dan Alkoholisme
Seperti yang kita ketahui, narkoba dan minuman yang mengandung alcohol mempunyai dampak terhadap system syaraf manusia yang menimbulkan semangat keberanian. Semua orang pun tahu, narkoba dan alcohol itu dalam dosis yang berlebihan bisa membahayakan jiwa orang yang bersangkutan. Makin sering ia memakai narkoba atau minum-minuman beralkohol, makin besar ketergantungannya sehingga pada suatu saat tidak bisa melepaskan diri lagi. Pada tahap ini remaja yang bersangkutan bisa menjadi kriminal, atau menjadi pekerja seks untuk sekedar memperoleh uang pembeli narkoba atau minuman beralkohol.
3.3.3 Narkoba Narkoba
(singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis Narkotika adalah :
1. Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
2. Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
3. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku.(Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:
1. Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide), dsb. Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistim syaraf pusat, seperti: 2. Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether, dsb. 3.3.4 Jenis Narkoba Menurut Efeknya Dari efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga: 1. Depresan, Yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.
2. Stimulan Merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi. 3. Halusinogen Efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.
3.3.5 Penyalahgunaan Narkoba
Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan – mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dan lain-lain. Maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan.
3.3.6 Dampak penyalahgunaan Narkoba
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
1. Dampak Fisik:
1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya..
9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian.
2. Dampak Psikis:
1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
3. Dampak Sosial:
1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dan lain-lain.
3.3.7 Bahaya Bagi Remaja
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah bila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan hancurlah masa depannya. Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja. Masalah menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, para remaja tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telah terbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya manusia bagi bangsa.
3.4 Seks Bebas
Seks bebas ialah tindakan seksual yang dilakukan sebelum pada waktunya (menikah). Seks bebas ini biasanya dilakukan oleh remaja terutama yang berpacaran. Namun, rasa cinta dan sayang yang mereka lakukan disalahartikan dengan melakukan hubungan seksual. Awalnya, remaja hanya bergandengan tangan, tetapi karena hormon yang merangsang dan berbagai faktor seperti pengaruh budaya barat, selanjutnya mereka mulai mencumbu satu sama lain, lama-kelamaan, laki-laki mengajak pacar perempuannya untuk melakukan hubungan yang senonoh itu. Beruntung apabila si perempuan tidak meladeni pacarnya itu.
3.5 Dampak Seks Bebas
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.
3.5.1 Penyakit HIV/AIDS
Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Padah kita ketahui sampai saat ini belum ada obat dari penyakit AIDS ini. Jika telah kena penyakit ini kita hanya menunggu waktu mati saja, karena kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu mengembangan model pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendidik (konselor) sebaya menjadi sangat penting.
3.5.2 Aborsi Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang yang melakukan aborsi ia ” tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang “. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi. Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis. Dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd; Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah ;
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
2. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
3. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
4. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita),Kanker indung telur (Ovarian Cancer).Kanker leher rahim (Cervical Cancer).Kanker hati (Liver Cancer).
5. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
6. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).
7. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis) Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ” Psychological Reactions Reported After Abortion ” di dalam penerbitan The Post-Abortion Review. Oleh sebab itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal ini adanya perhatian khusus dari orang tua remaja tersebut untuk dapat memberikan pendidikan seks yang baik dan benar. Dan memberikan kepada remaja tersebut penekanan yang cukup berarti dengan cara meyampaikan; jika mau berhubungan seksual, mereka harus siap menanggung segala risikonya yakni hamil dan penyakit kelamin. Namun disadari, masyarakat (orangtua) masih memandang tabu untuk memberikan pendidikan, pengarahan sex kepada anak. Padahal hal ini akan berakibat remaja mencari informasi dari luar yang belum tentu kebenaran akan hal sex tersebut.
3.6 Penanggulangan Pergaulan Bebas
Pada saat ini sangat marak terjadi pergaulan bebas di kalangan remaja. Banyak sekali para remaja atau anak-anak muda yang terjerumus dalam pergaulan tidak sehat ini. Mereka tidak menyadari bahwa hal itu menyebabkan masa depan mereka terancam. Sekarang, sangat marak sekali diberitakan di televisi, radio ataupun media cetak yang mengabarkan tentang remaja nakan yang berpesta sabu-sabu/narkoba. Kasus pengeroyokan dan tawuran di kalangan anak SMA. Bahkan yang lebih marak lagi adalah kasus free seks (Seks Bebas) yang banyak dilakukan oleh remaja berumur 13 hingga 17 tahun ke atas. Saya membaca dari koran Jawapos edisi minggu lalu, dijelaskan disitu bahwa anak SMA kelas 3 memperkosa adik kelasnya yang duduk di kelas 1 SMA. Setelah diperiksakan di Rumah Sakit, ternyata remaja putri ini sudah hamil 2 bulan. Keluarganya benar-benar menanggung rasa malu. Karena anaknya hamil diluar nikah. Karena tidak terima, pada akhirnya keluarga korban melaporkan kepada pihak kepolisian. Bahkan saya juga mendengar dari teman saya sendiri. Bahwa ada tetangganya yaotu seorang bapak berumur sekitar 40 tahun. Bapak itu tega memperkosa anaknya yang berumur 19 tahun. Mendengar berita itu saya sangat kecewa. Banyak sekali terjadi pelecehan seksual. Bahkan sekarang ini marak sekali diberitakan di infotaiment tentang kasus artis muda yaitu Sheila Marcia yang berumur 19 tahun, yang sudah menggunakan narkoba. Seharusnya kita perlu mempunyai kesadaran diri bahwa peranan kita ini adalah sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Wajib untuk mengaharumkan nama bangsa Indonesia. Juga kita harus menjadi kebanggaan negeri, orang tua, keluarga dan diri sendiri juga tidak lupa kepada tuhan. Dalam maraknya kenakalan remaja, peranan orang tua/keluarga sangat penting untuk mengawasi tingkah lakunya putra-putri mereka. Untuk mencegah supaya anak-anak remaja/anak-anak muda agar tidak terjerumus dalam pergaulan tidak baik. Perlu sekali para orang tua mengawasi anaknya. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya. Kita juga harus pintar memilih teman atau bergaul dengan teman yang baik dan tidak macam-macam. Dan yang paling penting kita mendekatkan diri pada tuhan. Mohon bimbingan dan petunjuknya agar kita selalu berada di jalan. Kita juga bisa mengeksplor ketrampilan kita dan juga mengisi waktu lkuang dengan hal-hal yang positif. Contohnya, yaitu pergi beribadah tempat ibadah, belajar kelompok dengan teman-teman, dll. Berikut ini beberapa uraian peranan remaja di berbagai kalangan untuk menanggulangi kenakalan remaja, pergaulan tidak sehat/bebas, dan lain-lain.
3.6.1 Peranan Remaja Dibidang Kerohanian
Kita sebagai remaja untuk menghindari dalam segi pergaulan yang baik harus mendekatkan diri pada Tuhan. Karena kita sangat membutuhkan bimbingan Tuhan. Baiknya kita harus lebih rajin beribadah dan berdoa pada Tuhan. Dan mengisi dengan kegiatan / hal-hal yang positif.
Contohnya mengikuti kegiatan tartil disekolah. Pergi ke masjid. Dan bagi umat christyani, rajin pergi ke gereja. Kita juga perlu memperdalam pelajaran ke rohanian agar kita dapat mengamalkan perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Agar iman kita lebih bertumbuh dan dikuatkan lagi. Dengan hal ini sedikit besar pasti akan bisa untuk menanggulangi pergaulan bebas atau kenakalan di kalangan remaja. 3.6.2 Peranan Remaja Dibidang Lingkungan
1. Lingkungan Keluarga Dalam hal ini sangat penting sekali peranan keluarga untuk mengawasi tingkah laku anaknya. Agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Menjaga hubungan dalam keluarga haruslah harmonis. Antara anak dan orang tua harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Terciptanya rasa saling mengasihi antara anggota keluarga. Saling berbagai cerita dan pengalaman. Diperlukan sikap yang jujur dan terbuka dalam segala hal apapun yang terjadi.
2. Lingkungan Pergaulan. Sebagai remaja didalam segi pergaulan sangatlah penting. Terutama untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Dalam bergaul itu kita tentu mengenal pengetahuan yang baik dan yang buruk. Nah, dalam hal ini kita di tuntut untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak benar. Tentunya kita harus menggunakan pikiran dan hati nurani yang bersih. Kita sangat membutuhkan tuntunan dan bimbingan Tuhan serta koordinasi orang tua. Sangatlah penting dalam hidup kita untuk menaggulangi pergaulan bebas di masa puber ini.
BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dampak pergaulan bebas antara lain :
1. Melakukan hubungan seksual secara bebas yang mengakibatkan kehamilan remaja/kehamilan sebelum nikah yang mempunyai resiko : Pengguguran kandungan/aborsi, rasa malu atau putus asa, terpaksa menikah
2. Beresiko tertular penyakit menular seksual.
3. Penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang dapat merusak moral generasi muda.
Upaya mencegah pergaulan bebas : Menanamkan nilai agama, moral dan etika.
1. Pendidikan yang diberikan hendaknya tidak hanya intelektual, tetapi juga mengembangkan kemauan emosional agar dapat mengembangkan rasa percaya diri.
2. Pendidikan dan penyuluhan seksual. 3. Penyuluhan kepada para remaja.
4.2 Saran
1. Bagi pemerintah Diharapkan memberi bimbingan dan penyuluhan kepada para pemuda agar tidak salah dalam memilih pergaulan.
2. Bagi orangtua Diharapkan memberi kasih sayang tidak hanya limpahan materi saja tetapi perlu juga memperhatikan tingkah laku anak-anaknya agar tidak salah jalan.
3. Bagi para remaja Isilah hidup dengan kegiatan yang positif dan jangan mencoba hal-hal yang memberikan kenikmatan sesaat.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja, edisi 1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994 Tambunan Emil H, Mencegah Kenakalan Remaja, Bandung
www.wordpress.com/dampak-pergaulan-bebas-bagi-remaja.html Tanggal Diakses 3 Mei 2009
www.blogspot.com/Suara Remaja Suara Merdeka » Blog Archive » Bahaya Pergaulan Bebas.html Tanggal Diakses 3 Mei 2009 www.gudangmakalah.com/penanggulangan pergaulan bebas.html Tanggal Diakses 5 Mei 2009
Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Antara pergaulan bebas, aborsi dan pernikahan dini.htm Tanggal Diakses 5 Mei 2009


1 comment:

  1. Tambahkan tulisan 'link ke www.iaincirebon.ac.id'
    Selamat....teruslah menulis. Tugas ini hanya sebagai pembuka. Semoga ke depan, tulisannya semakin baik

    ReplyDelete